Friday, 9 May 2014

PASCA KHOTBAH (3)

Layang-Layang

Pembaca yang berbahagia

Hampir semua masyarakat indonesia, mengetahui apa yang dinamakan layang-layang. Waktu sekolah SMA, saya lupa tidak menanyakan, bahwa sejak kapan layang-layang di temukan, padahal guru sejarah saya waktu itu adalah ayah dari teman saya, yang saya kenal, dirinya selalu enak di ajak ngobrol, mulai dari move on sampai lets go.

Hidup itu ibarat bermain layangan, ada saat tarik dan ada saat ulur, dan semuanya perlu keseimbangan. Galau, galau adalah ketika layang-layang itu putus, diterbangkan oleh angin entah kemana.Andaikan dulu Firaun bermain layangan, mungkin tidak akan tenggelam di laut merah, karena takut mendapat gelar Alay (anak layangan)  Firaun lebih memilih kejar-kejaran dengan nabi Musa, apakah yang menyebabkan Firaun ditenggelamkan ?

Pembaca yang berbahagia

Kita boleh-boleh saja bermain layangan karena hukum dari semua perbuatan adalah mubah (boleh) sampai ada dalil yang menjelaskannya.
Untuk itu, marilah kita bermain layangan dengan aturan sang Pencipta, karena kita hidup hanya untuk beribadah kepada Tuhan yang Maha Esa.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS: [51] 56 )

Thursday, 8 May 2014

Oza Maafkan Aku



“Ozaaa, kesini !”  aku memanggil Oza yang berada di dalam kelas
“Iya, ada Oppa ?” Oza datang dengan segera dengan nafas terengah-engah
 “Tolong ambilkan jaket di tempat duduk, jangan pake lama.” Aku menyuruh oza, sambil menunjuk ke dalam kelas
“Baik Oppa.” Oza menurut saja pada perintahku, Oza adalah teman sekelasku yang berjenis kelamin wanita, yang selalu aku membutuhkan bantuannya
Ketika akan berlari mengambil jaket, kakiku sengaja untuk menyenggol kakinya, dan benar saja oza pun jatuh terkapar, karena kejahilanku. Kemudian ia di bantu bangun oleh Memey dan langsung mengambil jaket yang berada di atas meja tempat dudukku.
“Ini Oppa jaketnya.” Oza berbicara seperti tidak ada terjadi apa-apa sebelumnya
“Bagus, sini mana handphonemu, aku pinjam untuk buka twitter.” Belum sempat di jawab oleh Oza, aku merampas handphone yang ada di genggamannya
“Oppa Malik, handphoneku sedang tidak di paket, jadi akan mahal bila Oppa buka untuk internetan.” Oza memelas, mencoba menatap ke mataku yang sedang sibuk memainkan handphone miliknya
“Itu bukan urusanku, kita ini adalah teman, jadi kita harus saling berbagi.” Seakan tidak mendengarkan suara Oza yang memelas, aku malah sengaja membuka opera mini untuk segera twitteran.
“Ya, kalau Oppa Malik sudah bilang begitu, aku tidak kuasa untuk menolaknya.” Mata Oza mulai menitikan air mata, ia hanya mengangguk beserta air matanya yang tumpah
“Kamu memang temanku yang baik, aku akan cari makan dulu, nanti suruh memey untuk sms kalau ada guru masuk ke kelas.” Aku lantas pergi, tanpa memperdulikan oza yang menangis karena sikapku
“Iya.” Kali ini jawabannya begitu singkat
***
“Oza kenapa menangis ? pasti gara-gara Oppa Malik, sudah-sudah, dirinya memang begitu.” Dari sudut kelas Memey datang, dan mencoba menenangkan Oza
“Enggak Mey, mata aku kelilipan.” Oza berusaha menyembunyikan kejadian yang sebenarnya
“Ohh, mana sini aku lihat matamu, aku akan meniupnya.” Nampaknya Memey percaya dengan apa yang dikatakan oleh Oza
Oza pun mendekat ke arah Memey, dan malah menangis dan sekarang mencoba untuk memeluk Memey
“Oza kenapa ?” Tanya Metta kepada Memey
“Enggak tahu, katanya kelilipan, kok malah nagis begini.” Memey berusaha menjelaskan keadaan
“Ayo sudah-sudah, masuk ke kelas, ada pak Jhon.” Metta membalasnya, tapi dirinya masih penasaran dengan keadaan Oza yang sebenarnya
“Iya Mba.”
Sambil mengusap air matanya, Oza meminta Memey untuk sms kepada pria itu, pria yang tadi membuat dirinya menangis.
***
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan begitu dengan bulan. Selama itu Oza terus di sakiti oleh pria itu, benar! Pria itu adalah aku. Sampai pada perpisahan sekolah, Oza masih belum bisa melupakan kejadian yang di alaminya, kejadian yang penuh dengan lara dan derita. Tetapi Oza terus bersabar, dirinya mampu melewati semua itu dengan sikap yang begitu dewasa,mungkin Oza ada perasaan yang tersampaikan kepada pria itu.
Waktu, waktulah yang menghapusnya seiring berjalannya waktu, Oza sangat nyaman dengan keadaannya sekarang, ia sekarang sudah terpisah dari pria yang terus menyakitinya ketika masih sekolah SMA, tetapi berbeda dengan pria itu, kini dirinya menyesal dengan sikapnya yang dahulu ia lakukan, memang segala sesuatu akan terasa bila sudah tiada, andaikan pria itu bisa bertemu kembali dengan Oza, maka pria itu akan meminta maaf kepadanya, dan mencoba menebus semua kesalahnnya. Karma, ya ! mungkin ini adalah karma utnuk pria itu, karena karma datang kepada siapa saja, bila kau menanam maka kau yang akan menuainya.
“Maafkan kesalahanku, bila aku memang salah, tetapi janganlah berubah, karena kau tak akan mampu berubah seperti power ranger, perlakukanlah aku sebagaimana perasaanmu tentang keberadaanku.”

Seratus Persen Jomblo Bahagia


Selasa sore, kali ini  aku mulai risih dengan orang-orang di sekitar, termasuk dengan ibu dan nenekku, karena mereka juga memandang bahwa aku tidak laku atau bujanghidin. Sampai pada puncaknya aku sempat untuk akan dijodohkan. Oh ibu, jangan paksa aku, ini bukan zaman Siti Nurbaya, sebetulnya aku tidak keberatan untuk dijodohkan dengan siapa pun, tetapi biarlah hati ini yang memilih, bila tidak suka dengan calonnya, jangan terus dipaksakan, karena cinta tidak bisa di paksa, begitu yang aku rasakan selama ini.
Aku memang seorang yang sadar dengan kekurangan, aku sadar, aku bukan siapa-siapa tetapi aku tahu siapa diri ini sebenarnya, aku mempunyai optimisme yang tinggi, aku memiliki jiwa sosial yang tinggi dan itu semua akan aku buktikan, maka dari itu aku tidak terlalu fokus mengenai status Jomblo dan masalahnya terlebih dahulu, biarlah orang berkata apa, biarlah orang memandang apa, yang jelas aku sudah memilih, dan pilihanku adalah menjomblo sampai halal.
Pada hakikatnya manusia adalah ciptaan Allah yang sempurna, di banding mahluk ciptaan lainnya, sangat dangkal bila kita hanya menilai dari fisik luarnya saja, apalagi dari rupa dan bentuk tubuh. Wajah cantik, muka tampan, tubuh tegap dan kulit halus semuanya akan usang di makan waktu. Hei coba lihat diriku, aku memang tidak setampan mereka, tetapi aku adalah tampan begitu kata kedua orang tuaku. Siapa sih orang normal yang tidak menyukai lawan jenis ? pasti mereka akan pilih-pilih mengenai calon yang bakal menjadi pasangannya, secara naluri memang tidak salah karena aku pun begitu. Anehnya semakin aku memperbaiki diri, semakin banyak orang-orang yang ingin dekat denganku, bahkan tidak sedikit dari mereka ingin menjadi orang spesial dalam episode kehidupanku, tetapi aku tetap pada komitmen, jadi cukup say hello saja, dan aku menjalani ini semua dengan perasaan bahagia, aku bebas untuk siapa pun, tidak membeda-bedakan satu sama lain. Pernah lagi, ada seorang wanita  cantik yang berusaha mendekatiku, bahkan dia pernah ikut dalam kompetisi semacam kontes kecantikan, mojang atau putri padi di daerahku meyebutnya.
Godaan demi godaan aku lewati, banyak sekali teman-teman yang suka mengumbar hubungan mereka di depanku, tapi aku tahu, mereka yang seperti itu adalah yang tidak memiliki komitmen serius, dan cenderung untuk menjadikan hubungan sebagai sarana memuaskan diri sendiri. Aku tidak seperti itu, aku tahu apa arti sebuah “Hubungan”, janganlah berani bermain layangan bila kau takut putus, bila nanti putus, rasakanlah kau diterbangkan oleh angin yang entah kemana, karena sejatinya adanya hubungan adalah untuk putus. Aku akan mengatakan kepada calon pendampingku, “Aku dapat menciptakan kesenanganku sendiri, kesenanganku bukan terletak kepadamu, tugasku adalah untuk membahagiakanmu, maka katakanlah bila kau tidak bahagia denganku.”
 Aku juga percaya, Allah lebih ingin membahagiakan hambanya, kita bisa memilih dan Allah yang menentukan, meski sekarang terpisah jarak, meski sekarang kita jarang berkomunikasi bahkan tidak pernah kenal sekali pun, namun yang namanya jodoh pasti tidak kemana, masih teringat nasihat ayah kepadaku, yang membuat aku untuk lebih mengerti arti kehidupan ini, dia berkata “Aku selalu berdo’a berharap kamu mau denganku, kukira Tuhan lebih berkuasa daripada kau dan kadang-kadang aku berpikir, Tuhan sudah menjodohkan kamu denganku, ketika kau tak mau, kau sudah berani menentang ketentuan-Nya dan menolak kemauanku.” Surayah adalah ayah yang ku maksud, itu adalah rahasia mengapa sampai saat ini aku bertahan dengan statusku sebagai jomblo yang bahagia.
Aku tidak akan bahagia, bila aku sibuk mencari pasangan yang sempurna, untuk pasanganku, aku sedang memantaskan diri, yang aku ingini 100 % perasaan untuknya tanpa ternodai oleh masa lalu atau sang mantan. Aku juga setuju bahwa setiap orang memiliki arti “Cinta”  masing-masing, disini aku hanya berbagi, dan mengajak untuk membuka mata, memandang arti luas “Cinta” yang sesungguhnya.
Kabar gembiranya, aku memilih komitmen seperti ini ternyata tidak sendirian,ada beberapa teman dekatku sesama pria juga memilih komitmen seperti ini, ada sebagian yang aku tanya, kenapa tidak pacaran ?, ada yang menjawab ingin fokus karir dulu, karena enggak percaya diri, karena dilarang oleh Agama dan masih banyak lagi jawaban serupa, yang intinya memilih komitmen jomblo sampai nikah, aku adalah orang yang bepengaruh di sekitar teman-teman, dan karena itu aku terinspirasi untuk mendirikan komunitas JJB (Jomblo-jomblo Bahagia) di bawah kendali Organisasi Gula Biang. Organisasi Gula Biang ini aku bentuk ketika kelas 12 SMA, tujuannya untuk menghibur orang-orang di sekitar, aku namai Gula Biang karena Gula Biang rasanya manis, jadi harapakanku dimana ada Gula Biang di situ bisa memberikan rasa manis.
Jomblo adalah pilihan, dan tidak ada yang salah dengan itu, yang salah adalah ketika memilih jomblo seumur hidup, karena Tuhan menciptakan kita sudah berpasang-pasangan. Apa saja keuntungan menjadi jomblo ? tentu banyak sekali, dan kali ini aku ingin berbagi beberapa saja, yang pertama adalah Fokus. Orang yang memilih “jomblo” adalah biasanya orang-orang yang fokus pada tujuannya, dan hal ini bisa kita jumpai di sekitar kita. Yang kedua adalah lebih bebas, siapa sih yang enggak ingin dirinya bebas ? merasa bebas seperti burung yang terbang dari sangkar, begitu yang dirasakan oleh seorang yang memilih jomblo, dirinya lebih leluasa, untuk berkomunikasi dengan banyak orang tanpa ada kecemburuan sosial. Yang ketiga mungkin perbaikan finansial, mungkin bagi sebagian orang, point ketiga ini tidak ada masalah, tetapi berbeda untuk orang yang berkantong pas-pasan seperti aku. Dengan memilih jomblo, aku bisa sedikit menabung, atau juga berbagi kepada sahabat yan ada di sekitar.
Memang segala sesuatu ada kekurangannya, karena hanya Tuhan yang Maha Sempurna, memilih jomblo pun ada kekurangannya. Pertama, kurangnya perhatian dan ingin mendapatkan perhatian lebih, tetapi tidak semua orang seperti itu, bagi tipe orang yang periang, akan ada cara untuk mampu menghibur diri, entah itu membuat gebrakan atau kejahilannya mengerjai teman, semua semata-mata untuk berbagi kebahagiaan tanpa memandang status. Yang kedua, adalah kurang percaya diri, ketika  orang di sekitar sibuk dengan pasangannya dan ketika itu juga kita di tanya dengan pasangan kita, tentu ini akan menjadi hal memalukan, dan berdampak negatif, bila kita salah menanggapinya, sehingga kita menjadi kurang percaya diri. Yakinlah, memilih jomblo adalah pilihan, karena semua yang kita jalani di hidup ini, adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita pilih, intinya kita bisa  merubah pilihan jomblo kita. Harga jual bisa ditentukan, kau yang akan membayarnya dengan kebaikanmu di saat jomblo.









Halo, perkenalkan namaku Malik Abdul Azis, Ayahku yang menamaiku demikian, karena dia hobby dengan tinju, jadi Ayahku menamaiku dengan nama islamnya petinju Mike Tyson, anda tahu siapa Mike Tyson ? dia adalah si leher beton, pada zamannya sangat di segani oleh para lawannya, karena dia mampu menjatuhkan hanya dalam beberapa detik, tapi itu Malik Abdul Azis yang dulu, dan sekarang adalah aku, ya aku yang sederhana yang begitu ingin masuk syurga. Setiap aku mengetik nama Malik Abdul Azis di google, maka photo Mike Tyson lah yang muncul, oh betapa cemburunya aku, aku sangat berharap, anak dan cucu nanti bisa mengenaliku, hanya dengan tulisan caranya agar bisa. Aku akan terus menulis, terus menulis, sampai Tuhan memanggilku. Anda bisa menemukanku di Facebook dengan nama asliku atau di twitter dengan nama @malikvanovski, aku sangat haus dengan ilmu, semoga kita bisa berbagi dan saling membahagiakan, semoga sederhana.